Perhatian
terhadap penggunaan berbagai lafadz do’a yang syar’i juga dapat kita petik dari
tindakan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Mereka pun
turut mengingkari penggunaan do’a-do’a yang direkayasa karena mengandung
mudharat. Berikut beberapa contoh akan hal tersebut:
Di
dalam hadits diterangkan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
mengajarkan do’a kepada para sahabatnya sebagaimana beliau mengajarkan satu
surat kepada mereka.1 Beliau mengajarkan mereka untuk memperhatikan
pengucapan huruf, urutan kata di dalam do’a,
melarang mereka untuk menambahi atau mengurangi, menghimbau untuk mempelajari
dan menjaga lafadz do’a yang diajarkan beliau.2
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjenguk seorang yang sakit
mendadak sehingga badannya pun melemah. Maka nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam pun bertanya, “Apakah engkau berdo’a atau meminta dengan lafadz do’a
tertentu?” Pria tersebut menjawab, “Benar, saya memanjatkan do’a dengan lafadz
berikut: “Wahai Allah, segala adzab yang Engkau
sediakan untukku di akhirat, segerakanlah di dunia ini.” Nabi pun
berkata, “Subhanallah, engkau tidak akan mampu memikulnya, mengapa engkau
tidak mengucapkan, “Wahai Allah berikanlah kami
kebaikan di dunia dan di akhirat, serta peliharalah kami dari siksa api
neraka.” Anas radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Pria tersebut berdo’a
dengan do’a tersebut dan Allah pun memberi kesembuhan kepadanya.”3
Perhatikan!
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegur sahabat di atas karena do’a
yang dipanjatkannya, do’a yang murni berasal dari dirinya sendiri mengandung
kemudharatan meski motivasi sahabat memanjatkan do’a tersebut dikarenakan
rasa takut beliau terhadap siksaan di akhirat kelak.
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajari sahabat Al-
Barra bin ‘Azib radhiallahu ‘anhu do’a tidur dengan lafadz berikut,
اَللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِى إِلَيْكَ ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِى
إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِى إِلَيْكَ، رَهْبَةً وَرَغْبَةً إِلَيْكَ، لاَ
مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِى
أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِى أَرْسَلْتَ
“Ya
Allah, aku menyerahkan diriku kepada-Mu,menghadapkan wajahku kepada-Mu,
menyerahkan semua urusanku kepada-Mu, menyandarkan punggungku kepada-Mu, karena
mengharap dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan
diri dari ancaman-Mu kecuali kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab yang Engkau
turunkan dan kepada nabi yang Engkau utus.”
Ketika
Al Barra mencoba menghafal do’a di atas, beliau keliru dan mengganti lafadz
( نَبِيِّكَ
) dengan ( رَسُولِكَ
), nabi pun menegur dan mengoreksinya.4 Hal ini menunjukkan perhatian nabi terhadap
penggunaan do’a yang sesuai dengan tuntunan beliau, tanpa disertai tambahan dan
pengurangan.
Imam
Ibnu Hajar Al Asqalani asy-Syafi’i rahimahullah
mengatakan,
وأولى ما قيل في الحكمة في رده صلى الله عليه وسلم على من قال الرسول
بدل النبي ان ألفاظ الأذكار توقيفية ولها خصائص
وأسرار لا يدخلها القياس فتجب المحافظة على اللفظ الذي وردت به
“Hikmah
yang paling utama dari tindakan penolakan nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam kepada sahabat yang mengucapkan lafadz rasul sebagai ganti lafadz
nabi bahwasanya lafadz-lafadz dzikir adalah tauqifiyah (harus mengikuti
dalil, ed) dan memiliki berbagai kekhususan dan rahasia yang tidak
bisa diketahui oleh akal, sehingga wajib menggunakan berbagai lafadz do’a yang
disyari’atkan (baca: terdapat dalam Al Quran dan sunnah).”5
Para
sahabat justru mendatangi nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta
beliau untuk mengajarkan do’a kepada mereka, padahal mereka adalah kaum yang
berilmu dan fasih dalam berbahasa. Tengoklah permintaan Abu Bakr
ash-shiddiq
radhiallahu ‘anhu
yang meminta nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengajarkan sebuah
do’a untuk dia ucapkan di dalam shalat.6
Imam
Ahmad meriwayatkan dan selainnya dari Abdullah bin Mughaffal radhiallahu
‘anhu, dia mendengar anaknya tengah bermunajat dengan do’a berikut,
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْقَصْرَ الأَبْيَضَ عَنْ يَمِينِ
الْجَنَّةِ إِذَا دَخَلْتُهَا
“Ya
Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu istana putih di surga bagian kanan
jika aku memasukinya.”
Abdullah
bin Mughaffal pun mengoreksi anaknya,
أَىْ بُنَىَّ سَلِ اللَّهَ الْجَنَّةَ وَتَعَوَّذْ بِهِ مِنَ النَّارِ
فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: إِنَّهُ سَيَكُونُ فِى هَذِهِ الأُمَّةِ قَوْمٌ يَعْتَدُونَ فِى
الطُّهُورِ وَالدُّعَاءِ
“Wahai
anakku, cukup engkau meminta jannah kepada Allah dan meminta perlindungan
kepada-Nya dari api neraka. Sesungguhnya aku mendengar rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan ada sekelompok orang dari umat ini yang
melampaui batas dalam bersuci dan berdo’a.”1
Perhatikan
pengingkaran Ibnu Mughaffal radhiallahu ‘anhu terhadap do’a yang
dipanjatkan anaknya, yang merupakan hasil rekayasa sang anak. Hal ini
menunjukkan pada kita, do’a yang tidak bersumber dari Al Quran dan sunnah rentan
keliru.
1. Lihat
HR. Bukhari: 1109 dan Muslim: 403.
2. Fathul
Baari 11/183.
3. HR.
Muslim: 2688.
4. HR. Muslim: 2710.
5. Fathul Baari: 11/112.
6. HR. Bukhari: 5967 dan Muslim:
2705.
7. HR. Abu Dawud: 96, Ibnu Majah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar